Kiri ke kanan: Rieska Wulandari (penulis saya), Ibu Sita (arsitek), Bapak Jack (Jaringan Pariwisata Borobudur), dan Bapak Agus Canny (Direktur Pemasaran P.T. Taman Wisata Candi Borobudur)
Pengalaman saya selama menjalankan penugasan untuk menelusuri seluk-beluk Candi Borobudur menunjukkan, bahwa ada beberapa salah kaprah mewarnai pengelolaan candi ini. Sebagaimana diketahui umum, candi ini merupakah salah satu Situs Pusaka Dunia (World Heritage Site). Artinya, candi ini kini berada di bawah pengawasan UNESCO, dan tentu pengawasan ini membawa sejumlah aturan yang arahnya ke konservasi candi.
Salah kaprah yang banyak terjadi adalah menganggap candi ini semata-mata sebagai monumen. Melihat megahnya dan cantiknya, memang candi ini termasuk sebuah monumen, namun bukan semata-mata monumen. Candi Borobudur merupakan tempat ibadah umat Buddhis terbesar di dunia. Usianya kira-kira tiga ratus tahun lebih tua daripada Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja. Nilai sejarah dan keagamaannya tinggi. Dengan menganggap candi ini sekadar monumen, banyak orang datang ke sana hanya untuk melihat-lihat dan berfoto; sedikit sekali yang ke sana untuk menghargai mahakarya leluhur kita. Saya tidak bilang berfoto di Candi Borobudur adalah keliru, namun apa salahnya jika sambil berfoto, sekalian kita kembali belajar mengambil hikmah dari Candi Borobudur. Anggaplah itu iseng-iseng berhadiah lah.. Hehehe...
Salah kaprah yang lain adalah menganggap candi ini sebagai satu-satunya tonggak penghidupan masyarakat. Memang selama ini sektor pariwisatalah yang paling menonjol dari Kabupaten Magelang, khususnya Kecamatan Borobudur. Akan tetapi, bukan berarti sektor lain ditinggal begitu saja untuk berjualan di Candi Borobudur. Di satu sisi, penjual yang berjubel di Candi Borobudur membuat pengunjung tidak nyaman. Setiap kali bus memasuki pelataran parkir candi, belum lagi pintunya terbuka dan penumpangnya turun, para penjual sudah menyerbu, dan tidak jarang jumlah penjual yang menyerbu itu bahkan lebih banyak daripada penumpang bus. Di sisi lain, banyaknya orang yang berjualan di kawasan candi membuat beban yang ditanggung bertambah. Salah satu isu yang mengkhawatirkan kelompok konservasi adalah bahwa tanah penopang Candi Borobudur pernah amblas kira-kira 15mm pada 2002, dan dikhawatirkan akan semakin amblas bila pengunjung candi tidak diatur jumlahnya. Tidak banyak memang, namun kalau terus terjadi, cucu kita mungkin tidak akan sempat melihat kemegahan Candi Borobudur...
Salah kaprah yang lain lagi adalah menganggap Candi Borobudur merupakan sebuah backdrop luar biasa untuk acara peluncuran mobil. Ya memang luar biasa, namun (1) Zona 1 Candi Borobudur tidak boleh dimasuki mobil dan (2) kawasan Candi Borobudur bebas dari kegiatan niaga/komersial. Maka dari itu, ketika BMW melakukan peluncuran produk mobil terbarunya di pelataran Zona 1 Candi Borobudur pada 2001, UNESCO berang... Kok bisa ya pejabat yang berwenang (Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur, Dinas Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan Nasional) mengeluarkan izin untuk berlangsungnya acara itu di situ... Ini lebih luar biasa... Hahahaha...
Ada juga salah kaprah yang agak lucu. Ceritanya, pemerintah pun prihatin dengan para pedagang yang semrawut, yang saya ceritakan di atas tadi. Pemerintah pun, di dalam hal ini Pemda Jateng dan Pemkab Magelang, mencari sebuah jalan keluar, yaitu mengumpulkan para pedagang supaya berdagang bersama di satu tempat bernama Pasar Seni Jagad Jawa... Jelas saja, banyak orang langsung protes menentang rencana itu. Alasannya (1) rencana ini bernuansa projek, yang digelontorkan pemerintah tanpa memperhatikan aspirasi warga, (2) pemberian nama Jagad Jawa dinilai ngawur dan tidak mempertimbangkan aspek filosofis istilah itu sendiri, (3) mal yang direncanakan muat 1500 toko itu posisinya masih berada di wilayah medan sakral tata ruang mandala Candi Borobudur. Warga menentang, para pemerhati Candi Borobudur menolak, bahkan UNESCO pun mengancam akan menghapus Candi Borobudur dari Daftar Pusaka Dunia bila rencana itu jadi dilaksanakan! Lucu juga ya pemerintah kita...
Bapak Helmy Murwanto dari Geologi UPN memberi penjelasan soal endapan lempung hitam di Sungai Sileng, bukti telaga purba Borobudur. Mbak itu Rieska Wulandari, penulis saya. Mas itu Arif Wibowo, teman saya yang ternyata teman seklas Rieska semasa kuliah.
Akan tetapi, di balik salah-salah kaprah tersebut, saya cukup terhibur ketika bertemu para narasumber saya, yang kebetulan semuanya pemerhati Candi Borobudur. Dengan semangat dan dedikasi mereka, candi ini masih punya harapan (cieeee... apa sih... hehehehe). Ada Ibu Nia, yang pikirannya cukup terbuka sebagai arkeolog, tidak seperti beberapa arkeolog lain, yang belum apa-apa sudah menolak data yang coba ditanyakan oleh penulis saya, Rieska. Ada Bapak Helmy, geolog yang di dalam pikiran saya adalah peneliti sejati yang mampu menjaga rasa ingin tahunya tetap membara. Ada Ibu Sita, arsitek yang punya kepedulian luar biasa terhadap pusaka peninggalan masa lalu. Ada Bapak Jack, Bapak Hatta, dan Bapak Nur, yang dahulu digusur dari kawasan candi pada masa pemugaran ("rumah" mereka kini menjadi taman di halaman Candi Borobudur), dan kini berusaha membangun jaringan wisata kawasan, supaya orang kalau ke Borobudur tidak cuma ke candi tetapi juga menikmati wilayah saujana Borobudur. Ada Bapak Parno, yang dedikasinya di dalam mendokumentasikan Candi Borobudur sungguh luar biasa (ketika kebanyakan juru foto pelit membagi fotonya, Pak Parno menyerahkan semua foto dokumentasinya sejak 1973 kepada pengelola Candi Borobudur!!). Ada Bapak Marsis, yang kini memimpin Balai Konservasi dengan menjaga amanat UNESCO dan generasi mendatang dengan sebaik-baiknya. Dan sejumlah tokoh lain yang tidak bisa saya tulis satu persatu di sini....
Mari kita dukung terus usaha dan langkah mereka! Lanjutkan! Hehehe... Oh iya. Teman-teman Peta Hijau (Green Map) di dalam waktu dekat ini akan meluncurkan Peta Mandala Borobudur. Presentasi 8 Juni 2009 dan jalan-jalan menyusuri peta 13 Juni 2009. Kalau sempat, mari datang...
You need to be a member of VII VISIONAIRES to add comments!
Join this social network