
Sejak kecil hingga sekarang, saya sudah beberapa kali mengunjungi Candi Borobudur. Maklum, saya tinggal di Yogyakarta, yang tidak terlalu jauh dari Candi Borobudur di Magelang. Bahkan beberapa tahun terakhir, saya menyempatkan diri menyaksikan perayaan Waisak yang dilangsungkan di Candi Mendut dan diteruskan prosesi jalan kaki menuju Candi Borobudur. Perlahan tetapi pasti, ada satu hal yang mulai saya sadari, terutama setelah berbincang dengan beberapa narasumber saya di dalam penelusuran ini, yaitu bahwa Candi Borobudur barangkali telah hilang kesakralannya.
Candi ini didirikan pada sekitar abad VIII–IX sebagai tempat belajar dan beribadah Buddhisme. Dilihat dari usianya, nilai sejarahnya sangat tinggi. Dilihat latar belakang pembangunannya, candi ini kental dengan unsur keagamaan. Candi Borobudur juga adalah salah satu monumen kuno termegah di Asia, yang sejak 1990-an telah ditetapkan sebagai Situs Pusaka Dunia oleh UNESCO. Akan tetapi, mengapa kebanyakan orang yang datang ke sana, sejauh yang saya lihat, hanya untuk menikmat pemandangan dan berfoto?
Lebih parah dari itu, beberapa orang dengan cueknya memanjati candi agung ini. Di satu sisi, papan bertulisan larangan memanjat tersebar di kawasan candi. Di sisi lain, ini bangunan bersejarah sekaligus tempat ibadah umat Buddhis. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila ada orang memanjati masjid atau gereja tempat kita beribadah, terlebih lagi bila masjid atau gereja itu berusia seribu tahun. Tambahan lagi, susunan batu Candi Borobudur tidak disemen. Artinya, tentu rangkaian ini rawan lepas bila dipanjat.
Soal semen, saya ada sedikit cerita. Masa seribu tahun lalu memang belum mengenal semen. Saya ingat pelajaran sejarah semasa sekolah dahulu menjelaskan, Candi Borobudur direkatkan dengan putih telur. Ini pun tidak benar. Cobalah, bila mampir ke Candi Borobudur, perhatikan susunan batuannya. Mirip jigsaw puzzle. Batu yang satu dengan yang lain disusun dengan memasangkan tonjolan satu batu ke cekungan batu yang lain. Tidak disemen; tidak direkatkan dengan putih telur. Bayangkan konstruksi "selemah" itu dipanjat!
You need to be a member of VII VISIONAIRES to add comments!
Join this social network