Sebelum melakukan penelusuran, seperti cerita saya sebelumnya, sebisa mungkin saya membekali diri dengan data seputar Candi Borobudur. Maksud hati supaya penelusuran di lapangan nanti lebih mudah. Akan tetapi, semakin saya menelusuri data itu, semakin heran saya, karena data yang dianggap sebagai kebenaran selama ini tersebut hanyalah sekumpulan dugaan. Saya pun memulai penelusuran saya mengenai Candi Borobudur dari sejumlah dugaan.
Contohnya, hampir semua buku sejarah menulis, Candi Borobudur didirikan oleh Raja Samaratungga pada 824 M. Akan tetapi, pencarian saya menunjukkan, bahwa Raja Samaratungga diperkirakan tidak membangun candi itu, namun meresmikannya. Yang membangunnya bisa jadi Raja Indra Gunanatha, ayahnya, atau Putri Pramoddhawardhani, anaknya. Angka tahun itu pun masih perkiraan. Nama Indra Gunanatha sebagai ayah Samaratungga pun dugaan, karena sumber lain menyebut ayah Samaratungga adalah Samaragriwa, yang oleh sumber lain ditekuk lagi, dengan teori Samaragriwa adalah saudara Samaratungga. Sumber lain lagi menyebut Samaragriwa tidak lain adalah Samaratungga sendiri. Nah lo!!

Salah satu dugaan utama yang saya telusuri adalah bahwa Candi Borobudur didirikan di tengah telaga. Telaga purba itu kini telah kering, konon tertutup oleh muntahan erupsi vulkanis Gunung Merapi. Banyak pakar sejarah dan arkeologi tidak bisa menerima dugaan ini, karena memang tidak ada prasasti yang mencatatnya. Akan tetapi, hal ini dapat dibuktikan dengan pendekatan geologis, seperti bentangan alam, lapisan-lapisan tanah, umur batuan, dan endapan. Belum lagi, bila kita menengok nama desa sekitar Candi Borobudur, yang ternyata cukup "basah": Bumisegoro, Sabrangrowo, Tuk Songo, Tanjungsari, dan sebagainya.
Untuk menggambarkannya, saya perlu menelusuri bukti-buktinya terlebih dahulu dong, maka saya mendatangi Pak Helmi Murwanto, dosen geologi UPN Yogyakarta, yang sudah cukup lama meneliti masalah telaga purba itu. Beliau menjelaskan soal singkapan lapisan tanah di Sungai Elo, yang menunjukkan dengan sangat jelas adanya endapan bekas genangan air tenang (baca: danau). Beliau juga bercerita tentang pengeboran yang pernah dia lakukan di tujuh titik sekitar Candi Borobudur. Pun beliau dan saya sepakat, butuh foto dari atas untuk menunjukkan bentangan alam Candi Borobudur, yang memang cocok dengan dugaan dikelilingi telaga.
Hal lain yang saya telusuri pula adalah hubungan antarumat Hindu dan Buddhis pada masa itu. Konon mereka hidup berdampingan dengan akrab. Saya pun mencoba melihat hubungan antara candi Hindu dan candi Buddhis, untuk mencari petunjuk. Di Candi Borobudur, sebagai candi Buddhis, ternyata terdapat relief Kinnara dan Kinnari, karakter mitologi yang gambarnya mengelilingi Candi Prambanan, yang adalah candi Hindu. Karakter yang sama pun ada di Candi Ngawen di Muntilan, yang konon dahulu merupakan candi Hindu yang dikonversi menjadi candi Buddhis. Persoalannya, tokoh Kinnara dan Kinnari ternyata, menurut Ibu Nia, dosen arkeologi UGM Yogya, tidak berkaitan dengan religiositas, namun merupakan tokoh mitologi India. Pun soal dugaan konversi Candi Ngawen, beliau mengaku tidak bisa membuktikannya, jadi murni masih dugaan.
Di luar soal dugaan itu, Candi Ngawen memang unik, meski pun patung yang ada di dalam candi adalah patung Buddha, namun ditemukan pula lingga dan yoni (lambang Hinduisme) di lokasi candi. Lingga juga ditemukan di situs Candi Mendut, candi Buddhis dekat Candi Borobudur, namun menurut Ibu Nia, lingga di Candi Mendut bukan bagian dari candi, hanya memang ditemukan di lokasi yang sama dan tidak dipindahkan (insitu). Kembali ke Candi Borobudur, rupa-rupanya bukan cuma stupa yang ada di sana, melainkan juga ratna. Stupa merupakan penciri candi Buddhis, sementara ratna mencirikan candi Hindu.

Ratna juga ditemukan di candi-candi perwara kompleks Candi Plaosan, sementara candi utamanya sendiri berstupa. Pada candi-candi perwara Plaosan juga ditemukan inskripsi, yang menyebutkan soal sumbangan/upeti masyarakat kepada raja di dalam pembangunan candi. Berdasarkan penemuan ini, muncul pula dugaan, bahwa Candi Borobudur mungkin dibangun dengan cara yang sama. Dugaan lagi.... Dugaan yang satu membawa saya kepada dugaan yang lain... Selalu begitu..
Diduga, tanjung yang dahulu menjorok ke telaga purba Borobudur kini adalah Bukit Dagi. Diduga, di Bukit Dagi dahulu ada semacam padepokan tempat belajar agama Buddhis. Diduga, Candi Borobudur didirikan sebagai perpustakaan atau tempat belajar, sementara ibadah lebih diarahkan ke Candi Mendut. Diduga, di dekat Candi Borobudur ada asrama yang fungsinya pun masih diduga-duga, kalau bukan untuk menampung perajin batu dari India pada masa pembangunan Borobudur, mungkin untuk tempat menginap orang-orang yang belajar agama Buddhis di Borobudur. Diduga, batuan Candi Borobudur diambil dari muara Sungai Elo dan Progo, kendati asalnya dari muntahan erupsi Gunung Merapi. Diduga, karena waktu itu lokasi candi dikelilingi telaga, batu-batu itu diambil menggunakan rakit. Diduga... Ya namanya juga tidak ada prasasti atau catatan resmi...
Namun demikian, penelusuran harus terus dilakukan, demi menggali informasi, meskipun yang ditemukan lagi-lagi dugaan. Dugaan yang paling membuat saya terkejut, bagaimana pun, adalah dugaan yang saya dapati pada akhir penelusuran. Waktu itu sebetulnya saya mulai menelusuri bagaimana masalah ekonomi-sosial-budaya (ekososiokultural?) seputar Candi Borobudur dipetakan dan dicari jalan keluarnya oleh masyarakat sekitar Candi Borobudur sendiri secara mandiri. Kebetulan saya bertemu tokoh masyarakat yang punya dedikasi tinggi di dalam menyelesaikan masalah ini, sampai beliau, Bapak Jack namanya, menyelami sejarah Candi Borobudur, bahkan sempat bertemu pakar arkeologi Belanda yang dahulu melakukan penelitian tentang Candi Borobudur, J.G. de Casparis.
Menurut dugaan De Casparis, dan Pak Jack tampaknya sepakat, Candi Borobudur dahulu ketika didirikan berwarna putih! Dugaan ini mengacu pada Candi Kalasan, yang diresmikan pada 778 M oleh Rakai Panangkaran, raja kedua Kerajaan Medang, kakek buyut Raja Samaratungga. Warna didapat dari semacam lapisan semen putih yang diberi nama vajralepa. Komposisi dasarnya kapur, maka dari itu warnanya putih. Jujur, saya masih belum bisa membayangkan bagaimanakah rupanya Candi Borobudur yang berwarna putih itu....

Menelusuri dugaan.. Repot memang, namun penuh tantangan!
You need to be a member of VII VISIONAIRES to add comments!
Join this Ning Network