
Akhirnya ke Borobudur lagi. Minggu 12 Juli 2009 kemarin saya kembali menjelajah daerah perbukitan, perkampungan, persawahan, juga sungai-sungai sekitar Borobudur. Hanya saja, agak berbeda dari penjelajahan saya sebelumnya, kali ini saya pergi bersama teman-teman Peta Hijau (Green Map).
Jalan-jalan bersama komunitas Peta Hijau ini adalah di dalam rangka peluncuran salah satu peta terbaru mereka, yaitu Peta Hijau Mandala Borobudur. Latar belakang pemikiran mereka rupanya tidak berbeda dari beberapa paparan saya sebelumnya soal Borobudur, yaitu membuat wisata alternatif Borobudur, supaya orang datang tidak hanya ke Candi lalu sudah. Wisata alternatif ini diharapkan dapat memberdayakan kembali masyarakat sekitar Candi, yang selama ini hanya menggantungkan ekonominya pada keberadaan Candi. Selain itu, wisata ke sekitar Candi juga dapat mengurangi jumlah—atau setidak-tidaknya mengatur ulang distribusi—pengunjung Candi, yang dikhawatirkan dapat merusak Candi dan membuat fondasinya semakin ambles, tidak kuat menahan beban.
Hal ini sebetulnya sangat memungkinkan, mengingat kekayaan lokal masyarakat sekitar Borobudur. Sayangnya, kekayaan dan kearifan lokal ini lama tenggelam, karena pemerintah daerah sendiri selama ini hanya memopularkan Candi Borobudur, seolah hanya itu yang mereka punya. Padahal tidak. Ada sebuah dusun pusat kerajinan gerabah kuno, yang aktivitasnya bahkan telah terpahat pada dua panel relief Candi. Ada dusun lain yang mengolah kayu aren menjadi makanan tradisional. Tidak jauh dari situ, ada dusun yang membuat tahu kedelai dan madu lebah. Ada wisata arung jeram di Sungai Elo dan Progo, tidak jauh dari Candi.
Jalan-jalan bersama teman-teman Peta Hijau kemarin membuka potensi lain lagi: ada perajin pensil hias (mereka menyebutnya "pensil gaul"), ada perajin kartu pos dengan unsur hiasan daun bodhi yang dikeringkan, ada dalang wayang kulit, ada pembuat makanan tradisional yang namanya unik dan cara memakannya juga unik, dan ada pula komunitas jathilan anak. Semuanya di dalam radius kurang dari dua kilometer dari Candi Borobudur dan dapat dicapai dengan jalan kaki melewati hamparan perbukitan, perkampungan, dan persawahan yang eksotis!

Itu baru beberapa dari daftar panjang yang telah mereka siapkan. Mereka sebetulnya ingin sekali mengajak teman-teman semua menikmati "kekayaan terpendam" Desa Borobudur, sayangnya terkendala jarak, waktu, dan biaya. Salah satu teman sempat menyebut, sebetulnya ada rute panjang, yang melewati lebih banyak tempat yang layak dikunjungi, namun bisa memakan waktu dua hari—dengan suguhan wisata melihat bintang pada malam harinya. Akan tetapi, demi kenyamanan, perjalanan Minggu kemarin hanya menempuh "rute pendek". Rute pendek kok mulai berjalan 9.00, baru selesai 16.00 ya... Hehehehehe... Tidak apa-apa sih, karena saya akui pengalaman itu sangat menyenangkan.
Soal Peta Hijau sendiri, seorang teman bercerita, komunitas Peta Hijau Desa Borobudur sebetulnya sudah ada sejak dua tahun lalu, hanya saja regenerasinya kurang baik. Akibatnya, kegiatan mereka tidak berlanjut. Bersamaan dengan projek pembuatan Peta Hijau Mandala Borobudur ini, mereka mengumpulkan teman-teman baru dan menggandeng Kepala Desa Borobudur. Harapannya tentu supaya kegiatan ke depan bisa berlanjut dan sungguh dapat memberdayakan masyarakat lokal.
Ada sedikit "sisi lain" soal pemberdayaan kembali masyarakat sekitar Candi Borobudur. Ini terkait manajemen P.T. Taman Wisata Candi Borobudur yang dinilai tidak memihak masyarakat lokal. Lahan yang sekarang menjadi taman wisata Candi Borobudur dahulu adalah area pemukiman warga, yang lalu digusur oleh pemerintah dan dibuat menjadi taman. Adalah simbah dan eyang para warga sekitar Candi Borobudur lah yang dahulu membantu rehabilitasi Candi. Akan tetapi, kini setelah Candi itu megah berdiri, taman pun dipagari dan warga seolah diasingkan.
P.T. Taman, selaku pengelola candi, tidak mempromosikan wisata alternatif "kekayaan terpendam" Desa Borobudur; mereka hanya menginginkan pengunjung sebanyak-banyaknya datang ke Candi Borobudur. Dampaknya, warga menjadi bergantung secara ekonomi pada keberadaan Candi dan keberadaan Candi sendiri terancam oleh overpopulasi pengunjung. Selain itu, dengan target sekitar sepuluh juta pengunjung ke Candi per tahun, tidak sepeser pun uang penjualan karcis masuk itu memperkaya Desa Borobudur.
Inilah mengapa Kepala Desa Borobudur bersama para warga dan teman-teman Peta Hijau berusaha membuka peluang mereka sendiri melalui rintisan wisata alternatif mandala Borobudur.

* * * * *
Informasi Peta Hijau:
You need to be a member of VII VISIONAIRES to add comments!
Join this Ning Network